ANDA INGIN BISNIS??? hanya di bulan ini DISC% 5JT Promo KEMITRAAN Miniblek

Senin, 25 November 2013

KUNJUNGAN MINIBLEK KE KOPI WARUNG TINGGI Jakarta

Apabila ditanya apa brand asli Indonesia yang tertua? Ternyata jawabnya bukan BRI, Jamu Iboe, Nyonya Meneer, atau Bumiputera tetapi Kopi Warung Tinggi (WT).Warung Tinggi dahulu merupakan sebuah warung yang berada di jalan Moolen Vhiet Oost (Batavia) yang sekarang terkenal dengan nama Jalan Hayam Wuruk. Dahulu warung tersebut berjualan makanan seperti Warteg dan barang-barang kebutuhan rumah tangga.


Tahun 2013 menduduki peringkat pertama sebagai Indonesia Living Legend Brands dengan usia 135 tahun dibawahnya, peringkat dua, adalah BRI dengan usia 118 tahun dan ketiga Jamu Iboe berusia 103 tahun dan seterusnya . Miniblek Kedai Kopi yang berkomitmen menghadirkan kopi terenak dari seluruh pelosok negeri sangatlah tidak sopan jika tidak bersilaturahmi ke Kopi Warung Tinggi.



Kopi Warung Tinggi didirikan tahun 1878 oleh Liauw Tek Soen. Di tahun 1998, Warung Tinggi diberikan kepada generasi ke 5 yaitu Ferry Widjaja. Namun, di tahun 2002 beliau meninggal akibat kecelakaan tunggal yang menimpanya, sehingga Warung Tinggi Coffee di kelola oleh adiknya, yaitu Angelica Widjaja. Di tangan Ibu Angelica Widjaja, Warung Tinggi Coffee lebih dikenal dan bertambah variasinya jenis kopi-kopi yang dihasilkan, juga mampu menembus pangsa pasar seperti supermarket, hotel dan perkantoran. Selain itu bukan hanya di Indonesia saja, sekarang Warung Tinggi Coffee menambah jalur usaha nya melalui ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat.


Kunci sukses Kopi Warung Tinggi adalah sudah tentu kerja keras mulai dari proses pemilihan kopi terbaik secara manual dan roasting menggunakan mesin pilihan, mempertahankan resep secara turun temurun karena mereka percaya kualitas kopi terbaik adalah kunci perusahaan agar berumur panjang yaitu dengan menyeimbangkan sistem tradisional dan modern.


Awalnya fokus usaha hanya ke kopi bubuk. Kopi Warung Tinggi mulai berkembang dan menambah jenis kopi lainnya yaitu Kopi Luwak. Selang beberapa tahun kemudian, mulailah ditemukan beberapa racikan kopi lainnya, yaitu Torabica (yang sekarang dikenal dengan nama Rajabika, Arabica Spesial, Arabica Super dan Robusta.


Di tahun 1978, warung tinggi di kelola oleh Liauw Hiong Yan yang lebih di kenal dengan Bapak Rudy Widjaja. Di jaman tersebut, semakin banyak macam kopi yang diracik nya. Sehingga membuat Warung Tinggi Coffee bertambah besar dan mempunyai pabrik pengolahan kopi sendiri. Dari Warung Tinggi Coffee, jenis macam kopi bertambah banyak, salah satunya, yakni Kopi Jantan dan Kopi Betina yang ditemukan pertama kali oleh Bapak Rudy Widjaja. Kopi Jantan lebih disukai oleh kalangan para pria karena menurut Bapak Rudy Widjaja, rasa dari kopi Jantan sendiri sangat keras. Sedangkan Kopi Betina lebih banyak disukai oleh kalangan anak muda karena aroma kopi Betina yang special.


Pada kunjungan kali ini, bersyukur Mr. Blek berkesempatan mencicipi kopi Rajabika yang harga perkilonya Rp. 200 ribu. Rasa kopinya khas antara pahit dan asam bercampur menciptakan sensasi tersendiri. Untuk oleh-oleh, langsung pesan beberapa jenis kopi untuk nantinya di jual di Miniblek Kedai Kopi. So.... penikmat kopi tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta jika ingin merasakan Kopi Warung tinggi yang melegenda itu, cukup singgah ke Miniblek Kedai Kopi yang ada di kota anda. Salam Sruput.....


Sabtu, 16 November 2013

Kunjungan Mr. Blek ke KOPI MATAHARI BEKASI

Siang itu pada pertengahan Bulan Nopember 2013 cuaca agak bergerimis, Mr. Blek sengaja hunting mencari pusat penjualan Kopi Matahari di Bekasi yang sudah terkenal itu. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya ketemu juga, tempatnya sederhana berada di ujung jalan Mayor Oking. Berbentuk sebuah ruko yang di huni bersama-sama dengan penjualan barang elektronik. Disekitarnya adalah ruko-ruko tempat penjualan aneka kebutuhan harian, dulu di lokasi ini adalah pasar bahkan di depannya terdapat pusat perbelanjaan Ramayana yang sekarang telah disulap menjadi mall modern Lotte dept. Store.

Toko dijaga oleh 3 orang (lupa nanya namanya) yang sepertinya adalah pegawai. Namun mereka sangat ramah ketika diajak ngobrol mengenai proses pembuatan kopi dan aneka produk Kopi Matahari.



Produk yang dijual adalah jenis kopi Arabika, Robusta, dan kopi luwak, diletakkan pada kotak display berlapis kaca sehingga mudah bagi pengunjung untuk mengenali. Harga bervariasi antara Rp. 60 ribu sampai diatas Rp. 1 juta bergantung jenis kopi. Proses pembuatan dan umur kopi berpengaruh pada harga, semakin muda umur kopi harganya semakin murah, harga yang paling mahal sudah tentu Kopi Luwak, sayang saat Mr. Blek berkunjung jenis kopi ini sedang kosong.



 
Display aneka produk kopi beserta variasi harga Kopi Matahari Bekasi.



 
Proses pemilihan produk biji kopi sesuai permintaan pembeli selanjutnya ditimbang. Mr. Blek mencoba menawar harga per kg tapi ternyata harga sudah nett. Namun untuk beli dalam berat sedikit dilayani misalnya hanya 250 gram.

Setelah biji kopi ditimbang sesuai pesanan, selanjutnya kopi dimasukkan pada grinder untuk dihaluskan. Mesin yang dipake tidak terlalu modern tapi sangat cepat dan halus prosesnya. Grinder ini juga ada dijual jika mau beli dengan harga berkisar Rp. 2 jutaan tapi barang seken. Hanya dalam hitungan menit biji kopi sudah berapah bentuk menjadi bubuk yang siap saji.




Proses melembutkan biji kopi dengan mesin grinder.




Dalam hitungan menit biji kopi berubah menjadi bubuk kopi siap seduh. Proses selanjutnya adalah packajing bubuk kopi ke kantong plastik dan kopi siap dibawa pulang.




Demikian perjalanan singkat Mr. Blek berkunjung ke kota Bekasi. Sampai bertemu kembali di kunjungan berikutnya tentunya di penghasil kopi terkenal di setiap daerah. Salam sruuput kopi mania.

Anda ingin membuka outlet Miniblek Kedai Kopi di kota anda
INFORMASI LEBIH LANJUT Silahkan hubungi :
Indra : 0856 911 888 01
Email : miniblek@gmail.com.
Pin BB : 2A43FC9B
WA : 0877 5966 5471

Kamis, 07 November 2013

Pekan Ngopi Jogja

Sekali lagi untuk urusan mengenalkan kopi kepada khalayak umum saya harus memberi acungan jempol buat anak-anak muda Jogja yang berinisiatif sendiri mengadakan event “Pekan Ngopi Jogja” (@NgopiJogja). Acara yang digagas oleh 11 orang ini diselenggarakan dari tanggal 20 hingga 26 Oktober 2013 yang diikuti oleh 16 cafe di wilayah Jogjakarta. Menurut Wawan Arif acara ini direncanakan untuk digelar setiap tahun sebagai salah satu atraksi wisata “budaya ngopi” di Jogjakarta selain lebih mengenalkan produk kopi lokal “Kopi Merapi”
ds
Acara disusun cukup padat dari wisata ke kebun kopi Merapi, lalu ada acara “coffee Talk” mengenai peta Jogja di jagat kopi Indonesia, lomba logo, nyethe, dan beberapa acara lainnya termasuk kelas cupping yang saya ikuti atas undangan dari Agus Theo dari District  Coffee, hari Kamis tadi bersama Morning Glory Coffee. Acara kemarin dihadiri juga oleh Asri Kartika Agustin (23) Miss Coffee 2013, dan Wilda Ayu Mandasari (21) Ms. Coffee tahun 2012, keduanya merupakan wakil dari Jogjakarta.
Tentunya menarik untuk melihat peta kopi di Jogjakarta yang terus bertambah, walau ada beberapa yang kemudina hilang, tapi tak menyurutkan semangat kota ini untuk terus berbenah serta upaya untuk menjadikan kopi sebagai salah satu atraksi wisata. “The rule of Indonesia coffee shop is : no rule!” dalam salah satu artikel saya yang dimuat di majalah kopi dari Thailand, dan saat itu saya merujuk betapa uniknya budaya kopi di Jogja.
Jadi bila memang serius untuk menjadikan Jogja sebagai salah satu atraksi wisata untuk kopi sebagaimana yang sudah dilakukan di New York dan kota besar  dunia lainnya, saya sarankan untuk segera menerbitkan publikasi mini yang berjudul “Jogja Coffee Guide”. Bisa dalam bentuk buku kecil/brosur/flyer dan tentu saja berbahasa Inggris atau bilingual yang dibagikan di tempat strategis untuk wisatawan dalam dan luar negeri.
Buku ini akan dilengkapi dengan alamat lengkap, peta lokasi, profil cafe, apa keunikannya, bagaimana dengan penyajian kopinya, tradisional atau Italian, high-end, serta sejumlah informasi menarik lainnya. Oh ya, jangan lupa, masukan “kopi Joss”, buat saya mereka adalah ikon Jogja serta punya daya tarik istimewa, terlepas suka atau tidak dengan cara penyajiannya.  Selanjutnya, saya akan menunggu undangan pameran kopi rakyat ala Jogja, lesehan style, semoga terwujud di waktu yang akan datang.
For coffeelicious people in Jogja, I salute you !
*  *  *
asri kartika agustin




Ms. Coffee Jogja 2012
TAKE FROM : cikopi.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

komentar FB